Jakarta, 13 Desember 2025—Masifnya bencana hidrometeorologi dan ekologi yang melanda berbagai wilayah Sumatera menjadi bukti bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan krisis nyata yang berlangsung saat ini. Banjir bandang dan tanah longsor yang merenggut ratusan korban jiwa dan melumpuhkan aktivitas masyarakat tidak hanya dipicu perubahan iklim global, tetapi juga diperparah oleh buruknya tata kelola lingkungan serta kebijakan pemerintah yang belum memprioritaskan keselamatan warga dan kelestarian ekosistem.
Dampak krisis ini juga semakin dirasakan di kawasan perkotaan, mulai dari gelombang panas ekstrem, kemarau basah dan perubahan musim yang makin tidak menentu, hingga banjir dan rob yang kian sering terjadi. Kondisi ini menciptakan tekanan kesehatan, ketidakstabilan ekonomi, dan meningkatnya kecemasan di kalangan orang muda.
Melihat urgensi tersebut, Kawula17 meluncurkan Festival Rumah Kaca sebagai ruang edukatif dan reflektif bagi orang muda untuk memahami krisis iklim dalam konteks kehidupan sehari-hari, sekaligus membangun kapasitas mereka agar lebih tangguh, kritis, dan berani bersuara dalam mengawal kebijakan pemerintah. Dengan dukungan 24 kolaborator, 24 mitra komunitas, dan 15 mitra media, Festival Rumah Kaca berlangsung sehari penuh pada Sabtu, 13 Desember 2025 di M Bloc Live House, dan menargetkan kehadiran lebih dari 700 orang muda dari wilayah Jabodetabek.
COP30 dan Minimnya Pelibatan Iklim Orang Muda
Conference of The Parties (COP) ke-30 yang baru saja dilaksanakan di Belém, Brazil, bulan November 2025 lalu belum menunjukkan terobosan tegas dalam komitmen global menekan emisi. Lebih dari itu, pelibatan orang muda juga dinilai kurang mendalam dan bermakna, meskipun merekalah kelompok yang akan paling terdampak oleh keputusan tersebut. Situasi ini mempertegas pentingnya ruang partisipasi bermakna yang lebih kuat dari orang muda—sebuah konteks yang melandasi diselenggarakannya Festival Rumah Kaca.
Terinsipirasi dari novel penutup Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer “Rumah Kaca,” Festival Rumah Kaca persembahan Kawula17 mengadopsi filosofi ‘ruang tembus pandang’ sebagai simbol transparansi atas kebijakan iklim. “Kami meminjam filosofi rumah kaca untuk menempatkan kebijakan pemerintah di ruang yang tembus pandang. Apapun hasil negosiasi global di COP30, orang muda wajib tahu dan paham implikasinya. Melalui Festival Rumah Kaca, kompleksitas dan eksklusivitas kebijakan iklim kami kemas secara transparan layaknya di dalam rumah kaca. Tujuannya agar orang muda tidak hanya sekadar mengawasi, tetapi juga jeli melihat celah dan mengambil peluang dari kesepakatan global tersebut untuk memperjuangkan masa depan mereka sendiri,” jelas Maria Angelica, Program Manager Kawula17.
Menjembatani Kesenjangan Partisipasi Orang Muda
Dalam National Benchmark Survey Kawula17 pada semester 1 2025, 59% orang muda menyatakan minat tinggi untuk berpartisipasi dalam isu lingkungan, namun 50% merasa takut untuk terlibat. Kesenjangan inilah yang ingin dijembatani oleh Festival Rumah Kaca. Melalui pemetaan tingkat aktivisme yang dikembangkan Kawula17, setiap pengunjung dapat menemukan pengalaman personal yang relevan terlepas dari tingkat pemahaman mereka terhadap isu lingkungan. Pendekatan ini memastikan partisipasi yang inklusif—setiap orang dapat mengambil peran sesuai kapasitasnya.
Festival ini menghadirkan rangkaian kegiatan yang memungkinkan orang muda memperluas wawasan sekaligus memperkuat jejaring. Melalui Diskusi Tanggap Krisis, pengunjung membedah hasil komitmen iklim Indonesia pasca-COP30. Di Selasar Aktif Aksi, pengunjung bertemu dengan organisasi dan komunitas yang telah dikurasi sesuai tingkat aktivisme, memungkinkan mereka berjejaring dan menemukan ruang keterlibatan. Sementara itu, Rumah Ide membuka panggung bagi para pelajar SMA/SMK sederajat di Jakarta untuk menyampaikan aspirasi mereka terkait situasi lingkungan di Jakarta. Penayangan film serta pertunjukan musik melalui Layar Bukan Kaca dan Irama Darurat turut digunakan sebagai medium kultural yang cair untuk memperluas jangkauan kesadaran iklim orang muda.
Melalui integrasi aktivitas tersebut, Festival Rumah Kaca berharap dapat memperkuat kapasitas orang muda sehingga mereka tidak hanya memahami urgensi krisis iklim, tetapi juga siap mengawal kebijakan iklim pemerintah secara berkelanjutan. “Suara orang muda akan menjadi bermakna bila dijadikan pertimbangan utama dalam kebijakan yang memengaruhi masa depan kita, termasuk kebijakan iklim. Festival ini adalah langkah konkret untuk memastikan suara itu tidak hanya didengar, tapi diperhitungkan,” tutup Angelica.
Kawula17 adalah organisasi independen, nirlaba, dan nirpartisan yang berfokus pada peningkatan partisipasi bermakna orang muda dalam demokrasi di Indonesia. Melalui berbagai program seperti aplikasi saran pemilihan, riset, dan edukasi melalui Kawula17 Goes to School, Kawula17 mendorong kesadaran kritis dan keterlibatan orang muda pada isu-isu lingkungan, hak asasi manusia, gender, dan antikorupsi.
Kontak media:
Maria Angelica
Program Manager Kawula17 angelica@kawula17.id
